|
Weleh... saya mencoba coComment di thread ini untuk membantu memberitahu jika ada komentar baru. Lha, ternyata sudah banyak comment baru; tapi entah kenapa tidak terlacak di coComment.com :) Maaf saya jadi telat reply nya.
implementasi kesetaraan gender di negara asalnya yang sudah cukup kebablasan - kadang kala ketika ada laki-laki yang mampu, namun justru perempuan yang dipilih; karena takut dituduh bias gender :)
Saya rasa itu adalah kesalahan pada penerapan, bukan kesalahan konsep kesetaraan gender. Mohon jangan mencampur permasalahan pada level implementasi dengan kesalahan pada level konseptual.
Awalnya dari kesalahan konsep mas. Konsep kesetaraan gender versi Barat adalah wanita == pria. Lalu dilanjutkan dengan politically correctness, akhirnya sampailah kita kepada praktek-praktek yang mencengangkan & lucu2 itu tadi :)
Satu contoh lucu lagi, di Inggris lebih banyak terjadi penganiayaan pria oleh wanita daripada sebaliknya :D saya sih nggak terlalu peduli soal itu (doh kan udah pada dewasa cing, selesaikan saja sendiri masalahnya), tapi kemudian salah satu lanjutannya adalah jadi bermasalah pada pendidikan anak-anak. Kalau ini terus terang saya prihatin.
Konsep kesetaraan gender Barat punya beberapa kelemahan mendasar, juga cenderung ekstrim dan membabi buta dalam implementasinya. Di sisi yang lain, pihak agamawan (bukan cuma Islam) juga banyak yang ekstrim dalam perlakuannya kepada wanita. Kedua hal ini sama-sama tidak baik.
Mengenai konsep kesetaraan gender yang lebih tepat, saya pribadi setuju dengan komentar mbak Yanti.
yang protes smackdown setahu saya bukan cuma kalangan agamis. Para pelindung anak seperti kak Seto termasuk pemrotes yang paling keras.
Saya kok belum dikasih ataupun mendapatkan argumen yang masuk akal kalau professional wrestling itu menyebabkan anak kecil menjadi violent? Sepertinya kekhawatiran ini sama sekali tidak berdasar, dan justru menunjukkan bahwa kalau ortu yang protes justru ortu yang merasa tidak mampu mendidik anaknya. Dan melimpahkan kesalahan ke orang lain.
Bukannya sudah banyak dibahas dimana2, mungkin bisa coba di googling lagi mas. :)
Yang paling mendasar - sifat anak adalah peniru. Anak adalah salah satu peniru yang paling baik, jauh mengalahkan kita. Satu contoh, ketika kami pindah ke Inggris, anak saya langsung lancar cas cis cus berbahasa Inggris PLUS dengan logat lokal (alamak... logat black country termasuk yang paling 'ndangdut padahal :D ) -- mengalahkan saya & istri, he he.
Kalau langsung digeneralisir bahwa orang tua tidak sanggup mendidik anak, waduh saya kira kok kejam sekali ini :) Sepertinya mas Herman perlu punya anak dulu nih, lalu coba dilakoni sendiri, he he.
Kalau saya pribadi sih bukan cuma anti Smackdown, tapi lebih lagi, yaitu merekomendasikan untuk tidak usah pasang TV. Terus terang, saya bingung kalau ditanya yang mana acara TV sekarang ini yang bisa bermanfaat untuk anak-anak. Alhamdulillah, anak-anak saya sehari harinya sering keluyuran menjelajah lingkungannya bersama kawan-kawan (item-tem deh :D), jadi lebih bersosialisasi, dan mendapat kesenangan2 seperti ketika saya masih kecil dulu -- instead of pasif disuapi TV sepanjang hari.
Bukankah "Aduh, acara ini kok kejam sekali ya, mbok pemerintha menyetop acara semacam ini, kasihan anak-anakku melihat kekejaman seperti ini. Penonton Smackdown yang suka kesadisan tolong menahan diri", adalah bentuk lain dari sikap holier-than-thou?
Mungkin kita coba melihat dari sisi pandang yang lain -- kira-kira apa manfaat dari acara Smackdown ?
Soalnya saya nggak berhasil menemukan satu pun yang signifikan, he he. Kalau cuma rekreasional, namun dengan efek samping yang sudah sedemikian besar, sorry saya belum bisa terima.
Saya terus terang tidak suka, apaan sih kok malah ngajarin orang untuk petantang petenteng ? Ick, saya geli dengan orang yang cuma bisa pamer otot, tapi ruangan diantara kedua telinganya cenderung kosong. WTF. Kayak kita masih kekurangan preman saja di sekitar kita. Absolutely useless.
Padahal sayang kan, dengan jangkauan media TV yang sedemikian luas, bisa sangat banyak manfaatnya. Lha, ini malah cuma show of force, kekerasan, kekejaman, dst. Alamak.
Kalau perempuan yang bekerja di luar rumah yang diprotes, saya rasa tidak adil sekali karena banyak dari mereka terpaksa harus bekerja. Tidakkah protes seperti ini justru akan bias kelas?
Saya setuju dengan Anda, tidak bisa kita generalisir memprotes perempuan yang bekerja di luar rumah. Saya juga ada beberapa kawan yang demikian kasusnya.
Tapi kalau perempuan yang bekerja di luar rumah sampai mengabaikan / menelantarkan kewajibannya; saya kira ini layak untuk kita beri masukan dengan cara yang baik.
Ada banyak yang dipertaruhkan jika konsep kesetaraan dan keadilan gender ditolak hanya karena dihubung-hubungkan dengan "barat".
"barat" itu cuma pelabelan saja saya kira agar jadi simple dan dalam diskusi tidak jadi berpanjang lebar berkali-kali menjelaskan ulang definisinya.
Kalau menurut saya pribadi, definisi kesetaraan gender versi barat adalah dimana perempuan == pria. Dan ini saya kira tidak tepat. Saya pribadi lebih setuju dengan konsep yang sudah dijelaskan oleh mbak Yanti diatas.
Thanks.
|
1